Artikel dan Berita Tentang Belitung

BelitungIsland.COM Article and News
Add to bookmarkAdded

Menilik Bedulang, Tradisi Makan Bersama yang Unik di Belitung

Asep Irwan Gunawan 28/03/2019

Makan merupakan aktivitas yang selalu ada pada setiap warga masyarakat di mana pun ia berada. Namun karena negeri ini memiliki banyak unsur budaya, maka di beberapa daerah kita bisa menjumpai beberapa tradisi makan yang unik. Nah salah satu tradisi makan yang unik dan menarik itu bisa kita jumpai di Belitung yang bernama Bedulang. Disebut tradisi karena memang Bedulang ini bukanlah muncul kemarin hari. Tapi tradisi makan Bedulang ini sudah ada dan muncul sejak lama dan akhirnya mengakar dalam kehidupan masyarakat Belitung. Lalu seperti apakah tradisi makan Bedulang atau juga disebut Nganggung yang unik itu? Berikut ulasannya.

ARTI BEDULANG


Aneka Menu Makan Bedulang

Secara bahasa, Bedulang sendiri berarti makan dengan menggunakan dulang, yakni nampan besar yang berbentuk bulat. Jadi dalam Bedulang ini ada prosesi makan bersama di mana pada satu dulang ada empat orang yang saling berhadapan dan duduk bersila atau lesehan untuk menyantap makanan yang ada pada dulang tersebut. Agar lebih ramai dan terasa kebersamaannya, maka tradisi makan Bedulang ini biasanya dilaksanakan di masjid atau balai desa.

SEJARAH DAN RIWAYAT BEDULANG


Susunan Dulang Siap Dihidangkan

Melihat dari wujud Bedulang, maka tradisi makan masyarakat Belitung ini diperkirakan muncul saat Islam masuk di Belitung. Hal ini bisa dilihat dari aturan Bedulang yang mengharuskan orang yang menyantapnya duduk bersila sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW. Selain itu riwayat Bedulang juga bisa ditelusuri dari cerita setempat yang menyatakan bahwa Bedulang ini dulu merupakan tradisi makan bersama dalam sebuah keluarga di Belitung. Jadi untuk bisa makan bersama, istri dan anak-anak akan menunggu ayah untuk pulang bekerja menambang timah. Nah saat ayah sudah datang di rumah maka acara makan bersama dalam keluarga pun segera dilakukan. Nah inilah cikal bakal munculnya Bedulang sebagai tradisi makan bersama di Belitung. Namun seiring waktu, tradisi makan bersama dalam keluarga ini memang berkembang menjadi tradisi makan yang dilakukan pada momen-momen tertentu seperti acara besar keagamaan dan acara adat di Belitung. Dari sinilah kemudian Bedulang dikenal sebagai budaya Belitung dalam arti secara umum. Selain itu kisah Bedulang ini juga bisa kita telusuri dari perlengkapan pokok yaitu dulang atau tudung sajinya yang bundar. Jadi dulu tudung saji yang digunakan dalam Bedulang adalah dulang kayu hingga kemudian berganti menggunakan dulang seng hingga sampai saat ini.

FILOSOFI BEDULANG


Selain Dulang Disajikan Juga Set Minuman dan Kue atau Buah

Tradisi Bedulang memang bukan sembarang kegiatan santap makan begitu saja. Tapi dalam Bedulang ada makna filosofis yang harus kita pahami. Jadi filosofi Bedulang ini adalah makan bersama atau kebersamaan serta persaudaraan yang menjadi cermin keterkaitan erat antara sistem sosial dan ekologi Pulau Belitung. Ini karena saat menyantap makanan dalam konsep Bedulang maka seseorang pastinya akan bertemu dengan orang lain dan juga akan saling menyapa. Nah dari sinilah kemudian akan muncul kebersamaan dan ikatan persaudaraan yang kuat dari kegiatan Bedulang. Selain itu dalam Bedulang ini ada juga filosofi dari ajaran Nabi Muhammad SAW yaitu makan dengan duduk bersila. Makan dengan duduk bersila memang merupakan ajaran atau sunnah dari Nabi Muhammad SAW yang memiliki makna atau arti sama-sama dalam kesetaraan untuk saling menghargai antar warga masyarakat. TUDUNG SAJI BERWARNA MERAH DAN MAKANAN DALAM BEDULANG

Dalam tradisi Bedulang ini kita akan menjumpai sebuah tudung saji berwarna merah yang menjadi ciri khas Bedulang. Tudung saji ini sendiri memiliki fungsi yaitu untuk menutup makanan yang akan disantap serta juga menjaga kehangatan makanan. Untuk makanan yang ada di dalam tudung saji yang kemudian disebut dulang ini terdiri dari lauk pauk dalam sebuah piring yang umumnya berjumlah 6. Nantinya 6 lauk pauk ini akan mengitari sebuah makanan berkuah yang berada di tengah-tengahnya. Menu dalam satu dulang ini kemudian akan disantap untuk empat orang yang telah mengitari dulang atau tudung saji berwarna merah tersebut. Sementara itu untuk jenis atau menu makanan yang disajikan dalam Bedulang ini akan dijumpai dalam berbagai variasi yang berbeda-beda bergantung pada tempatnya. Biasanya menu makanan dalam Bedulang ini antara lain sayur ikan, ayam ketumbar, lalapan (daun singkong+timun), sate ikan (mirip pepes), ikan nila goreng garing, oseng-oseng serta sambal serai. Namun bila membandingkan Bedulang di daerah pesisir dan daerah pedalaman Belitung maka menu yang ada biasanya akan berbeda. Karena dalam Bedulang ini memang punya sebuah prinsip untuk menggunakan kekayaan alam di sekitarnya untuk memasak. Dan satu hal lagi yang bisa kita ketahui dari Bedulang adalah menu makanannya biasanya disesuaikan dengan ketersediaan makanan di sebuah daerah serta kemampuan tuan rumah yang akan menyelenggarakannya.


Dulang Diangkat dan Disajikan Secara Estafet

PETUGAS PELAKSANA BEDULANG

Dalam pelaksanaan tradisi Bedulang akan ada petugas yang melaksanakannya. Petugas ini sendiri terdiri dari Penata Hidangan yang bertugas menyiapkan makanan dan peralatan makan, Tukang Berage dengan tugas menaruh makanan di atas dulang serta Mak Panggong sebagai koordinator tata cara makan bedulang. Selain itu ada juga Tukang Ngangkat Dulang yang mengangkat dulang ke hadapan para tamu, Tukang Ngisi Aik yang bertugas mengisi air minum ke dalam gelas serta Tukang Perikse Dulang yang bekerja memeriksa kelengkapan lauk pauk.


Makan Bedulang Mempererat Silaturahmi

ATURAN DAN ETIKA MENYANTAP DALAM BEDULANG

Dalam tradisi Bedulang ini kita juga bisa menjumpai adanya aturan atau etika yang harus dijalankan oleh semua orang yang mengikutinya. Pertama, aturan dan etika dalam tradisi makan Bedulang ini adalah petugas yang mengangkat dulang dan mengantar makanan haruslah berjumlah paling sedikit tiga orang. Ketika mengangkat dulang, harus dilakukan dengan kedua tangan disertai kaki kanan yang ditekuk ke atas lutut. Selain itu ketika mengangkat dulang, posisi pengangkat dulang tidak boleh membelakangi tamu. Dan setelah itu penyulu gawai akan menyalami para tamu serta akan mengatur posisi masing-masing tamu. Aturan dan etika berikutnya dalam Bedulang yaitu yang membuka dulang atau tudung saji ini haruslah orang yang paling tua diantara keempat orang tersebut. Sementara orang yang mengambilkan makanan adalah orang yang paling muda sebagai perwujudan dan bentuk penghormatan pada orang yang lebih tua. Setelah prosesi makan selesai dilaksanakan maka kemudian semua orang diharuskan mencuci tangan pada wadah yang telah disediakan. Tidak lupa juga setelah mencuci tangan, mereka harus mengeringkannya dengan serbet berlipat empat untuk kemudian dikembalikan pada keadaan seperti semula setelah dipakai.

MENJADI POTENSI PARIWISATA BELITUNG

Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya bahwa tradisi makan Bedulang ini memang bukan sembarang kegiatan makan. Ini karena tradisi makan Bedulang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Belitung yang sudah mengakar dan turun menurun. Dan begitu kentalnya budaya Belitung dalam tradisi makan Bedulang, menjadikan kegiatan makan ini kemudian dijadikan potensi pariwisata Belitung. Tujuan dijadikannya Bedulang sebagai salah satu bagian dari pariwisata Belitung ini tentu adalah untuk bisa menarik banyak wisatawan datang. Hasilnya kita pun saat ini akan bisa menjumpai Bedulang dalam event-event pariwisata yang digelar oleh pemerintah daerah setempat atau agenda pemerintah pusat yang menggandeng pemerintah daerah.


Comments


Tulis komentar artikel ini